Labels

"Cogito Ergo Sum", ucapan filsuf Perancis Rene Descartes yang berarti "aku berpikir maka aku ada" mungkin cocok dengan saya. Dan blog ini adalah wadah dari tulisan-tulisan saya yang tidak penting, berasal dari pemikiran aneh dari seorang yang bodoh.

Senin, 06 Juni 2011

Jenazahnya Diapain Nih?

Yak...
Beberapa menit yang lalu, saya bersama bapak-bapak sedang berdialog dalam sebuah forum rapat harian di balai desa. Ceritanya sedang membahas suatu masalah klasik yang sekarang ini semakin sulit memecahkannya, yakni bab merawat jenazah.


Yap, merawat jenazah adalah hal yang musti dilakukan ketika ada seorang anggota masyarakat yang meninggal. Tidak mungkin lah, mayatnya mandi sendiri, pakai kain kafan sendiri, gali lubang kubur sendiri terus loncat dan masuk kuburnya sendiri. Lah yang nguruk siapa? Itulah problemnya : harus ada manusia-manusia yang mau melaksanakan tugas mulia yang tidak semua orang bersedia.

Memang di setiap kelurahan atau daerah memiliki seorang perawat jenazah atau dalam bahasa kampung saya disebut "Modin". Modin inilah yang bertugas sebagai perawat, pemandi, sampai pengkafan setiap jenazah yang tercipta di kampung saya. Dan orangnya cuma satu itu.

Nah, permasalahannya adalah jika terjadi anggota masyarakat yang meninggalnya bersamaan (janjian mungkin). Nah si Modin ini jelas menjadi incaran banyak orang, orang-orang ingin jenazah keluarganya yang paling dahulu dikebumikan, si Modin yang hanya satu dan satu-satunya ini pun kelimpungan. Jika bisa membelah diri, pastilah membelah diri untuk melayani permintaan keluarga almarhum. Sering sekali prosesi layatan menjadi molor karena ulah Modin yang tak kunjung datang, tentu karena sibuk dengan mayat orang lain.

Berangkat dari permasalahan di atas, bapak-bapak pun mengusulkan untuk dibentuknya "tim kematian" (serius) di tiap-tiap masjid, yang bertugas merawati jenazah jika ada yang meninggal dalam masyarakat. Salah satu bapak menawarkan dilaksanakannya pelatihan merawat jenazah, baik jenazah laki-laki maupun perempuan. Bahkan nanti ujiannya bakal praktek langsung dengan jenazah atau mayat asli (serius, ini benar-benar diusulkan beliau beliau), entah siapa yang bakal bersedia menjadi mayatnya.

Terlepas dari itu semua, memang merawat jenazah adalah kewajiban setiap umat manusia, namun jika sudah ada yang menangani, baru terlepas kewajiban tersebut, itulah Fardhu Kifayah.

Namun jika si perawat mayat hanya satu, tentu sangat merepotkan sekali. Bayangkan saja jika yang mati setengah lusin-karena bencana mungkin, atau bagaimana jika yang meninggal perempuan? Tentunya si Modin yang notabene laki-laki tulen ini tentu bukan mahrom semua orang. Oleh karena itu memang perlu adanya perawat jenazah lain selain si Modin yang legendaris tadi.

Permasalahan mendapatkan "pemain pengganti" tadi tidaklah  semudah membalik telapak kaki. Alasannya bisa :
1. Dari sumber daya manusianya yang terbatas pada pengetahuan dan pengalaman.
2. Dari keluarga korban yang "jika tidak pak Modin yang mengurus, tidak puas"

Maka dari itu perlu adanya penyuluhan agar dibentuk tim perawat, baik untuk jenazah laki-laki maupun perempuan yang disertai dengan pelatihan dan pengalaman. Untuk itulah praktek langsung perlu diadakan, agar mereka-mereka ini mempunyai jam terbang yang cukup agar dipercaya oleh masyarakat.

Satu lagi usul dari para tetua-tetua yang hadir, bahwa masjid agung konon bersedia menjadi pelatih dalam hal ini. Bahkan mereka memberi "garansi", dimana setelah pelatihan, mereka masih mau mendampingi merawat jenazah asli hingga dua kali agar dapat memberi pemahaman yang cukup bagi peserta pelatihan (kata "garansi" itu mengundang tawa yang cukup meriah dalam rapat).

Akhir kata, semua sebenarnya kembali kepada diri sendiri. Dimana ketika kewajiban memanggil kita, kita harus selalu siap. Bukankah dari SMP kita sudah diajarkan untuk itu. Benar perkataan beliau, dimana yang terpenting adalah kesempatan lalu pengalaman. Apalagi memang tuntunannya, yang memandikan atau mengkafani adalah mahromnya, seperti istri dimandikan suami atau sebaliknya.

Jadi siapkah kita menjadi perawat jenazah? Agar kita tidak hanya terpaku dan berteriak dalam hati "jenazahnya diapain nih?"

Sabtu, 04 Juni 2011

Pager Mangkok



Pager mangkok, atau bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah pagar mangkuk. Itu, merupakan istilah yang sering dipakai dalam kebudayaan Jawa, terutama Surakarta dan sekitarnya. Biasanya digunakan dengan kalimat panjang menjadi sebuah pepatah Jawa. Lengkapnya berbunyi "Pager Mangkok Luweh Kuat Timbang Pager Tembok" yang dalam bahasa Indonesia kira-kira berbunyi "Pagar Mangkuk Lebih Kuat dari Pagar Tembok"

Arti dari pepatah tersebut kira-kira bisa diterjemahkan menjadi "tetangga yang baik, lebih bisa menjaga harta benda kita, daripada pagar tinggi nan kokoh sekalipun".

Mungkin banyak yang berpikir, kenapa bisa sebegitu melenceng artinya?

Begini...

Pagar mangkuk berkaitan erat dengan budaya memberi makanan dalam kehidupan bertetangga. Seringkali tetangga memberi masakan pada tetangga lain jika saat itu mereka memasak lebih. Walau tidak ada acara, syukuran, atau hajatan. Hal ini adalah untuk membina hubungan baik antar tetangga. Jika hubungan baik, maka kerukunan, kerjasama, bahkan sikap saling menjaga akan muncul. Sehingga tetangga tersebut akan menjadi menaruh perhatian, menjadi ringan ketika diminta pertolongan. Bahkan jika si pemilik rumah pergi untuk  waktu yang lama, tetangganya akan menjaga rumah beserta harta bendanya. Tidak mungkin tetangga akan membiarkan rumah orang yang telah baik kepadanya, dimasuki maling. Itulah pagar mangkuk.

Hal itu berbeda dengan pagar tembok. Meski pagar setinggi apapun dan pintu sekuat apapun, bisa saja kemalingan. Jika orang itu jarang bergaul, sombong, pelit pada tetangganya, maka tetangganya pun akan acuh kepadanya. Tetangga tidak akan menaruh perhatian pada orang asing yang masuk ke rumah orang tersebut dengan cara yang mencurigakan.

Itulah pesan penting dari pepatah "Pager mangkok luweh kuat ketimbang pager tembok". Dimana pemberian yang tulus, yang disertai dengan sikap baik, akan menimbulkan rasa kekeluargaan, rasa damai dan aman, yang bahkan lebih kuat dan kokoh dari pager tembok sekalipun.